Those who are afraid to fall, will never fly

Dengan Telapak Tangan mu


Ku dengar sayup sayup hymne guru, tersentak ku ingat seorang wanita yang kini sudah sudah mulai renta,…..

Makin ku dengar hymne itu, makin deras air mataku meleleh..

 

Ya wanita renta itu kini sendiri dalam masa tuanya

Kuingat masa-masa kecilku yang penuh tantangan dan dia lah yang selalu membimbingku dikala kutemui kesulitan dan kesukaran.

 

Melalui tangan mu yang kini sudah keriput terlahirlah manusia-manusia baru yang berguna bagi negeri ini, manusia yang berjiwa ksatria  yang akan melanjutkan dan membangun negeri ini.

 

Ya,..kuingat ibuku yang dulu adalah seorang guru,.

Yang setiap pagi membagi waktunya untuk anak-anaknya dan murid-muridnya

Yang membagi adil tanpa mengenal pilih kasih

 

Ibu,..

Melalui telapak tanganmu ini kau ukir jiwa ragaku hingga aku bisa tegar berdiri dan mandiri di alam ini yang penuh dengan tantangan.
Melalui caramulah kutularkan segala kebaikan ini pada anak-anakku.

Terima kasih ibu,..

Tak mungkin bisa lunas kubayar dan kubalas atas jasamu…

 

lirik hyme guru sera lagunya semakin lekat di ingatanku:

Terpujilah, wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu, akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti, terima kasihku tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan pembangun insan cendekia.

 

Selamat hari guru,..

kupersembahkan untuk ibuku tercinta.

 

 

Dwi Nindyatono

Mana yang Akan Anda Pilih…..?


kereta-apiSekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur yang masih aktif yang sering dilewati oleh banyak kereta api, sedangkan jalur yang kedua adalah jalur yang tidak aktif dan tidak pernah lagi dilalui oleh kereta api.

hanya ada satu orang anak saja yang bermain diatas jalur kereta api yang tidak aktif ini , sementara yang lain ramai-ramai bermain di jalur kereta api yang masih aktif.

Tiba-tiba ada rangkaian kereta api expres dengan kecepatan tinggi segera melintas, dan kebetulan Anda sedang di persimpangan jalur kereta api, dimana di depan Anda ada tuas panel untuk memindahkan laju kereta api ke jalur yang tidak aktif.

Bagaimana sikap Anda? Apakah Anda akan memindahkan laju kereta api ini ke jalur yang tidak aktif yang artinya Anda menyelamatkan sekelompok anak-anak yang sedang bermain di jalur aktif? Bila iya,.artinya Anda mengerobankan satu orang anak kecil yang saat itu sedang bermain di jalur kereta api yang tidak aktif. ATAU,..Anda akan membiarkan kereta api berjalan di jalur yang semestinya?

Mari kita berpikir sejenak untuk memutuskan keputusan apa yang akan kita ambil….? Pikirkan baik-baik..

Ya sebagian besar orang akan memindahkan laju kereta api ke jalur yang sudah tidak aktif dan mengorbankan jiwa satu anak kecil yang sedang bermain.

Anda mungkin memiliki pilihan yang samakarena menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan satu orang anak saja adalah sebuah keputusan yang rasional yang dapat disahkan baik secara emosional maupun secara moral.

Namun sadarkan Anda, bahwa seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif adalah suatu pilihan yang benar untuk bermain, karena memang jalurnya aman? Tetapi kenapa justru dia harus dikorbankan karena kecerobohan sebagian anak-anak yang bermain-main dijalur yang berbahaya?

Dilema seperti ini sering kali terjadi, baik dikantor, masyarakat,di dunia politik terutama kehidupan berdemokrasi, pihak minoritas seringkali dikorbankan untuk kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa cerobohnya dan bodohnya pihak mayoritas tersebut.

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain-main bersama teman-temannya di jalur kereta api yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan mungkin kita tidak akan menyesalkan akan kejadian tersebut.

Seorang teman yang mendengar cerita ini, mengatakan bahwa tidak akan mengubah arah laju kereta api, kerena sekelompok anak yang bermain di jalur kereta api yang masih aktif pasti sadar bahwa jalur itu berbahaya, maka mereka pasti akan lari ke jalur yang lebih aman ketika mereka mendengar kereta api akan segera lewat. Tetapi jika arah kereta api diubah ke jalur yang tidak aktif maka melayanglah nyawa seorang anak karena dia tidak berpikir bahwa kereta api akan lewat di jalur tersebut, karena jalur tersebut sudah tidak pernah dilewati kereta api lagi.

Disamping itu, alasan jalur kereta api di non aktifkan karena mungkin jalur tersebut sudah tidak aman lagi bila dilewati kereta api, dan bila arah laju diubah ke jalur yangtidak aktif akan semakin membahayakan bagi ratusan penumpang kereta api di dalamnya. Dan mungkin langkah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak bisa mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang kereta api.

Kita harus sadar bahwa hidup ini penuh dengan keputusan sulit yang harus kita buat. Dan mungkin kita tidak menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

Dan satu lagi yang perlu diingat.. dalam masyarakat sekarang ini…sesuatu yang benar tidak selalu disukai, dan sesuatu yang disukai itu tidak selalu benar…….

wassalam

dwi nindyatono

sumber: www.andriewongso.com

TERORIS,………


Kata itu sedemikian lekat ditelinga kita akhir-akhir ini. Penembakan dan penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 membuat kita berdecak kagum. Apalagi dengan tertembaknya gembong teroris yang paling di cari yaitu Dr Azahari dan Noordin M Top. Rasanya semua mata tertuju ke Indonesia, dan Indonesia patut diperhitungkan dalam hal pemberantasan teroris dan tidak akan main-main dengan apa yang disebut  teroris.

Tetapi kita juga tidak bisa terlena dengan tertembaknya gembong teroris tersebut, karena mereka sudah memberikan doktrin yang begitu mendalam kepada pengikutnya, dan ini berbahaya. Terakhir penembakan di bilangan ciputat. Teroris,..teroris,…

Tetapi tahukah  kita masih akan  teroris dalam bentuk yang lain,…? yaitu teroris dalam yang tidak membawa bom atau meledakkan bom di gedung atau di hotel?

Ya ,.itulah teroris perekonominan,… alias para koruptor.

Teroris ini tidak kalah berbahayanya dengan teroris sekelas Noordin M Top. Justru teroris ini meninggalkan bom waktu yang setiap saat siap meledak, meluluhlantakan sendi-sendi perekonomian bangsa kita. Membuat kebangkrutan negeri kita, dan membuat sengsara anak cucu kita nanti.

Teroris ini membuat semua menjadi sengsara, dan lagi-lagi yang paling kena dampaknya adalah rakyat kecil. 

Negara kita Indonesia juga tidak tinggal diam dengan perkara korupsi ini, terbukti terus dilakukan pemberantasan korupsi apalagi sekarang sudah ada lembaga khusus yang menanganinya, yaitu KPK. Semua anak bangsa  menaruh harapan besar di pundak KPK untuk melakukan pemberantasan korupsi, alias para teroris perekonomian.

Tapi ngomong-ngomong bagaimana setelah koruptor terbukti bersalah? adakah hukuman yang setimpal seperti layaknya teroris sekelas Noordin M Top yang di berondong senapan hingga mati?  Padalah tereris perekonomian ini jelas-jelas merusak sendi-sendi perekonomian bangsa yang dampaknya jauh lebih besar dan bisa berkepanjangan. Masihkah teroris model seperti ini diberi tempat di Indonesia, dan dibiarkan hidup dipernjara dengan fasilitas hotel bintang 5..? atau bahkan dibiarkan saja berkeliaran sambil menularkan penyakit korup ini kepada yang lain..?

Adakah nyali bagi pemerintah kita untuk menghukum teroris perekonomian ini dengan hukuman tembak mati , supaya memberikan efek jera bagi calon-calon teroris perekonomian yang lainnya yang ingin mencoba-coba..?

Bisa….?  Tentu bisa jika ada kemauan …………………..!

wassalam

 

dwi nindyatono 

Nggak ah, ntar Om Marah,…………….


Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran Anda? Mungkin berbagi
dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako, susu, atau berbagi makanan. Ya,
semua
jawaban biasanya dalam bentuk materi. Itu mungkin karena di kepala kita
telah tertancap ide-ide materialistik yang sudah mengglobal. Mengukur segala
sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman
nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi
tidaklah mesti berbentuk materi.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti
asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal
bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei
untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua
membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan
seorang bocah manis dan lucu. Dia masih sekolah kelas nol besar. “Siapa
namamu nak?” sapa ayah saya. “Nama saya Nina Om”, jawabnya manja. “Nina
sudah punya sepatu baru?” tanya ayah saya. “Sudah om, dikasih Abah (pemimpin
panti-red). Nina juga sudah punya baju baru” urai Nina.

“Kalau begitu Nina mau apa?” tanya ayah saya. “Nggak ah… ntar Om marah”
jawab Nina. “Nggak sayang, Om nggak akan marah,” ayah saya menimpali. “Nggak
ah… ntar Om marah” Nina mengulang jawabannya. Ayah saya berpikir, pasti yang
diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah saya semakin
menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.

“Ayo Nak katakan apa yang kamu minta sayang”, pinta ayah saya. “Tapi janji
ya Om tidak marah?” jawab Nina manja. “Om janji tidak akan marah sayang,”
tegas ayah saya. “Bener Om nggak akan marah?” sahut Nina agak ragu. Ayah
saya menganggukkan kepala.

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, `Seberapa
mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya
tidak akan marah’. Sambil tersenyum Ayah mengatakan “ayo Nak, katakan,
jangan takut, Om tidak akan marah Nak.””Bener ya Om nggak marah?,” ujar Nina
sambil terus menatap wajah ayah saya. Sekali lagi ayah saya menganggukkan
kepala.

Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya “Mmmm, boleh
gak mulai malam ini saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?. Nina sedih gak
punya ayah”

Mendengar jawaban itu, Ayah saya tak kuasa membendung air matanya. Segera
dia peluk Nina, “tentu Anakku.. tentu Anakku…mulai hari ini Nina boleh
memanggil Ayah, bukan Om”. Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak
Nina berkata “terima kasih ayah… terima kasih ayah..”.

Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan
waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena
merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina maka sebelum
pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, “anakku, sebelum lebaran nanti ayah
akan datang lagi kemari bersama ibu dan kakak-kakakmu, apa yang kamu minta
nak?” “Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.

“Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau
yang lain, pasti akan Ayah kasih.” jelas Ayah saya.

“Nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng
yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak NIna, boleh kan Ayah?” Nina memohon
sambil memegang tangan Ayah.

Tiba-tiba kaki Ayah lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina
sambil bertanya, “buat apa foto itu Nak?”

“Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina,
ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat,
seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di
hari itu.

Terima kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada
kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih
bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka
kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain
merasakan keberadaan kita di dunia.

wassalam

dwi nindyatono

 

—————————————————————————————-

cerita diatas merupakan kiriman teman saya melalui email lalu saya copy paste. Saya sendiri tidak tau siapa penulisnya,. Tetapi yang terpenting adalah moral of the story nya bisa memotivasi kita untuk berbuat lebih baik lagi. Terima kasih.

LIFE AND TIME BALANCING


Suatu saat sekitar jam 20.30 wib, after office hour , ketika kami sedang makan malam diemperan sembari lesehan di bilangan blok M dengan seorang teman, sembari ngobrol ngalor ngidul, tiba-tiba handphone temanku berdering, dan dengan muka yang agak kurang happy dia angkat telpon, yang ternyata dari bos-nya. Terlihat sepintas pembicaraannya serius, diakhir pembicaraan, temanku mengatakan siap,.Wah ada apa gerangan dengan telpon tadi?

Temanku bilang tadi bos nya telpon hanya memberitahukan bahwa ada yang dia tanyakan sehubungan kerjaanku tadi pagi dan memberikan berbagai instruksi lainnya. Tetapi dengan muka bersungut sungut temenku bilang,..kenapa sih pake telpon malam-malam diluar jam kerja? Bukannya besok pagi juga ketemu, lagi pula aku kan datang selalu pagi. Males deh direcokin dan harus mikir urusan kantor setelah jam kerja…..huhhhhhh….

Aku terpana melihat dia bersungut sungut. Ya,…mungkin pertanyaan dan instruksinya penting kali sehingga harus disampaikan sekarang, kataku sambil menghibur dia. Ah,..gak juga,..jawab dia. Emang kebiasaan tuhhh dia seperti itu.

Teman,..

Apa yang terjadi dengan penggalan cerita diatas tadi?

Ya itulah derita seorang pekerja dan juga derita seorang bawahan. Apakah betul harus demikian? Apakah seorang bawahan tidak berhak memberikan sanggahan ataupun keberatan bila ditelpon malam hari atau di sms malam hari?

Menurut saya, Jawabnya tentu saja tidak demikian. Bawahan juga berhak menyampaikan keberatannya.

Coba kita hitung-hitungan dengan waktu:

Dalam 1 hari ada 24 jam. Kita bekerja rata-rata 8 hingga 9 jam, dan kenyataannya juga tidak bisa teng-go alias pulang cepat, ya hitung aja dari jam 8 hingga jam 18, atau 9 jam kita bekerja, dan yang 1 jam adalah jam istirahat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kita berangkat dan pulang kerja di kota Jakarta, yang terkenal dengan kemacetan luar bisa, nggak pagi nggak sore. Hitung aja waktu yang terbuang di jalan untuk pulang pergi kantor adalah 4 jam.

Apakah kita tidak tidur? Tentu saja tidak. Dalam 1 hari rata-rata orang dewasa membutuhkan waktu tidur 6 hingga 7 jam. Katakanlah 6 jam sehari kita tidur. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk beribadah sholat (untuk yang beragama islam) dalam 1 hari. Waktu sholat dan berdoa rata-rata 10 menit, kalau sehari 5 kali berarti 50 menit untuk beribadah. Kita bulatkan saja 60 menit atau 1 jam .

Coba kita hitung berapa waktu keseluruhannya:

Kerja dalam 1 hari = 9 jam

Pulang pergi kantor dalam 1 hari = 4 jam

Waktu untuk sholat dalam 1 hari = 1 jam

Waktu tidur dalam 1 hari = 6 jam

Total waktu 20 jam, dan masih tersisa 4 jam.

Coba kita renungkan, untuk apakah sisa waktu 4 jam sehari ini? Apakah harus memikirkan urusan kantor lagi setelah kita berikan waktu untuk kerja selama 9 jam? Ataukah memanfaatkan waktu untuk keluarga dan anak-anak sehingga terjalin komunikasi? Atau sekedar hahahihi hangout dengan teman-teman (bagi yang single) untuk refreshing?

Kalau saya ditanya, saya memilih waktu yang tersisa 4 jam untuk kepentingan dengan keluarga melancarkan komunikasi dan lain sebagainya, so,.memang kita bisa katakan dengan bos kita, pak atau bu, please lain kali jangan telpon atau sms diluar jam kerja atau malam hari, kecuali kondisinya sudah benar-benar darurat. Apakah anda takut bicara seperti itu? Nggak usah takut, dan hilangkan budaya ewuh pekewuh (sungkan). Lebih baik terus terang dari pada menggerutu dibelakang.

Bagaimana pilihan anda? Tentu saja semua diserahkan kepada anda yang akan menjalankan.

Wassalam

dwi nindyatono

Too much brendy,……..


 

control

Tersentak hatiku ketika kubaca status seseorang yang selama ini menjadi perhatianku dengan kalimat “to much brendy” . Mabukkah dia? Inikah caranya menghilangkan kegundahan hati dan kegalauan yang sedang dialaminya?

Rasanya yang aku kenal selama ini tidaklah demikian, ..Akankah dia akan menyambangi brendy, wine, whisey untuk menghilangkan semuanya, ataukah akan berdoa berdzikir merenungi kesalahan apa yang telah diperbuatnya.

Kawan,…..pilihan menantimu, aku hanya bisa mengingatkan.

salam,..

temanmu

 

Itu surat dari salah seorang teman…

Apa makna dibalik itu?

Seseorang ketika menghadapi masalah yang berat, pekerjaan, sakit, putus cinta, terkadang selalu menyiksa dirinya sendiri dengan cara yang paling gampang, misalnya mabuk, atau lebih parah lagi bunuh diri.

Mabuk,.ya menghilangkan sesaat pikiran lelah yang ada, tapi setelah itu akan kembali lagi dengan keruwetan yang ada. Adakah itu memecahkan masalah? Menurut saya malah timbul dua masalah lagi, dari sisi kesehatan tambah tidak baik, tetapi masalah makin numpuk. Apakah kita harus menghidar dari masalah dengan cara cara seperti itu atau dihadapi dengan kepala dingin sambil cari solusi, seraya berdoa mendekatkan diri kepada sang Khaliq meminta petunjuknya?

Ya,.pilihan.

Pilihan yang harus diambil dengan mengedepankan rasionalitas, bahwa seseorang akan bertidak secara rasional sesuai kematangan jiwa seseorang.

Bagaimana dengan Anda………….?

wassalam

 

dwi nindyatono

Keputusan memutuskan,……..


Dari judul diatas, kira-kira apa yang akan diulas ya..

Ya sebuah keputusan untuk memutuskan sesuatu, bisa keputusan yang bekaitan dengan pekerjaan, kesempatan, dan mungkin relationship dengan seseorang.

Saya tidak bahas yang kaitannya dengan pekerjaan atau kesempatan, tapi dengan relationship.

Pernahkan anda menjalin relationship dengan seseorang? Pasti pernah lah,..yahh pacaran deh istilahnya. Bagaimana anda menjalin relationship? ketika masih ada kecocokan, saya rasa tidak perlu dibahas ya,.karena pasti nggak menarik. Tetapi setelah terjadi suatu pertengkaran yang menyebabkan terjadi perselisihan, sehingga pada puncaknya ego masing-masing yang berbicara.

Tetapi bagaimana manner atau cara memutuskan untuk menyudahi sebuah relationhip?

Apakah anda memutuskan via telpon? via sms? via email? atau langsung ketemu dan bicara baik-baik bahwa sudah tidak ada kecocokan?

Tergantung,.semua cara tersebut sah sah saja dilakukan, akan tetapi menurut saya face to face jauh lebih baik dan kesatria dibanding dengan cara-cara indirect. Saya berpikir pasti akan ada sesuatu yang berbeda ketika kita berbicara secara tatap muka langsung, dibandingkan dengan menggunakan teknologi. Yahhh walaupun dalam tatap muka juga belum tentu bisa lebih baik, bisa jadi malah berantem lebih seru. Tetapi setidaknya ada pancaran di wajah masing-masing yang mungkin bisa membawa hal-hal kebaikan diantara mereka berdua.

Semuanya tergantung dari kedewasaan diri dalam menghadapi situasi. Banyak yang masih berpikir kekanak-kanakan akan sebuah relationship ketimbang berpikir hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.

Bagaimana dengan anda? face to face dalam memutuskan menyudahi relatioship? atau dengan cara yan lain?

wassalam

dwi nindyatono

10 Joki Ditangkap, 9 di Antaranya Asal ITB!


Mau jadi apa ini bangsa kita kalau diawali dengan kecurangan seperti ini:
(dikutip dari KOMPAS)
10 Joki Ditangkap, 9 di Antaranya Asal ITB!

Ilustrasi: Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin, Makassar, menangkap 10 joki yang mendampingi peserta seleksi mengerjakan soal, Rabu (1/7). Di antara para joki itu, terdapat sembilan mahasiswa Institut Teknologi Bandung.
JUMAT, 3 JULI 2009 | 09:45 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com — Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Universitas Hasanuddin, Makassar, menangkap 10 joki yang mendampingi peserta seleksi dalam mengerjakan soal, Rabu (1/7). Di antara para joki itu, terdapat sembilan mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

Jaringan joki SNMPTN itu terungkap setelah dua anggota Tim Monitoring dan Evaluasi SNMPTN, Abdul Rasyid dan Ilham Jaya, menangkap tangan seorang joki berinisial IS. Ia memberikan jawaban soal seleksi kepada kliennya, peserta SNMPTN berinisial An, Rabu siang.

”Awalnya, kami mengevaluasi data para peserta SNMPTN dan menemukan bahwa IS adalah peserta tahun lalu yang lulus SNMPTN 2008. Menurut data kami, ia telah kuliah di ITB. Tahun lalu ia juga sudah lulus seleksi Jalur Nonsubsidi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Pada seleksi kali ini IS mengikuti seleksi untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Karena curiga, kami mengawasinya sejak awal ujian. Ternyata, kami melihatnya mengoper jawaban soal seleksi kepada An,” kata Abdul di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis.

IS kemudian dihadapkan kepada Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr dr Idrus A Paturusi. IS kemudian mengungkapkan nama para joki dan pengguna jasa perjokian yang ada dalam jaringannya.

”Dari pengakuan IS, kami berhasil menemukan beberapa orang joki. Seorang di antaranya adalah mahasiswa Unhas. Sembilan yang lain adalah mahasiswa ITB. Kami sebenarnya malu mengungkapkan hal itu karena memperburuk citra kami. Namun, itu harus diungkap untuk menghentikan praktik perjokian,” kata Paturusi.

Jaringan joki tersebut terungkap setelah kasus itu diserahkan kepada Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar. Rabu malam, polisi menangkap para joki dan pengguna jasa lainnya yang sedang berkumpul di salah satu hotel di Makassar.

Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar Komisaris Besar Burhanuddin Andi menyatakan, hingga Kamis siang penyidik telah menetapkan 10 joki, 6 pengguna jasa joki, dan Hr sebagai tersangka kasus pembocoran soal SNMPTN.

Dari pengakuan para tersangka, terungkap aktor intelektual joki adalah seorang sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin berinisial Hr. Para pengguna jasa joki yang lulus akan membayar Rp135 juta.

Di Bandung, Jawa Barat, panitia menangkap dua pelaku kecurangan SNMPTN. Kedua pelaku ini didapati menggunakan alat komunikasi canggih, salah satunya microchip mini yang ukurannya tidak lebih besar dari diameter koin Rp 100.

Panitia juga menyita sejumlah alat bukti lain dari peserta. Alat-alat itu adalah dua telepon seluler, transmiter, dan kabel berwarna coklat yang menyerupai warna kulit manusia.

Menurut Sekretaris Eksekutif Panitia SNMPTN Lokal Bandung Asep Gana Suganda, Kamis sore, berdasarkan laporan, kemungkinan masih ada 13 pelaku yang berbuat serupa. Panitia juga menduga ada jaringan nasional yang terorganisasi. (ROW/JON/SON)


Sumber : KOMPAS

Belatung,….


Selama hampir dua hari aku mencium bau tak sedap disekitar rumah, dan makin lama makin menyengat. Ughhhh,..ini pasti ada tikus mati,.karena menyebar bau yang tak sedap.

Puncaknya hari ketiga ,.ketika di lantai depan rumah ada yang jatuh dari sela-sela downlight,…hahhh..ternyata belatung,.makin lama makin banyak yang jatuh. Waduhhhhh ini menjijikan pikirku,.dan aku buru-buru suruhan tukang sampah ditempatku untuk melihat ke atas plafon untuk membuang bangkai tikus…

Setelah tukang sampahku naik, dia pun berteriak agak kecang,.ternyata yang diatas bukan bangkai tikus, tetapi bangkai musang yang agak besar dan punya buntut yang panjang.

Singkat cerita bangkai sudah tersingkir, dan yang tersisa tinggal beberapa belatung yang masih suka jatuh dari plafon. Kuamati  satu persatu belatung kecil berwarna putih ,…dan disinilah aku benar-benar kagum dengan binatang kecil yang disebut belatung ini.

Aku membayangkan, gimana jadinya ya kalau didunia ini tidak ada belatung? tidak ada binatang pengurai seperti ini? coba bayangkan…Hiiiiiii sungguh pasti banyak pemandangan mengerikan dan dunia ini akan penuh sesak dengan bangkai yang tidak bisa terurai. Ya Allah,..sungguh besar karunia Mu pada umat manusia di dunia ini dengan diciptakan belatung.

Aku terus mengamati binatang kecil berana belatung ini, sambil terkagum kagum, karena ternyata koloninya mempunyai tugas yang teramat mulia membantu manusia. Sekali lagi membantu manusia mengurai makhluk hidup yang sudah mati.

Walaupun bentuk nya kecil lemah tidak berdaya, dan hampir sebagian besar manusia pasti jijik melihatnya dan menyepelekannya, tetapi dibalik itu semua belatung mempunyai tugas yang teramat mulia, yang mungkin hasil dari tugasnyapun tidak pernah mendapatkan pujian dari manusia yang sudah dibantu oleh belatung ini.

Sungguh aku kagun, kagum dan kagum. Terima kasih belatung.,akmu dan teman-teman kolonimu telah membantu manusia mengurai jasad .

Apa moral of the story? Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil apapun. Terkadang kita sering menganggap bahwa ada tetangga kita, anak buah kita yang melakukan pekerjaan yang mungkin dianggap dan sering kali dianggap remeh, dan sering kali tidak mendapatkan atau sama sekali tidak pernah mendapatkan penghargaan, tapi justru mungkin dibalik pekerjaannya itu tersembunyi suatu manfaat yang sangat besar untuk membantu sesama ataupun lingkungan.

Dengan segala kerendahan hati aku ucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepadamu belatung dan temen-temenmu.

Semoga bermanfaat.

Wassalam

dwi nindyatono

Harga diri….(sebodoh itukah kita membela harga diri?)


Sebodoh itukah dia?

Itu kata yang selalu kuucap pada seorang tokoh sekaliber pak AA,ketua KPK non aktif.


Sudah banyak sekali analisa yang disampaikan oleh para pakar, baik pengamat kepolisian, ahli telematika, dan lain-lain, tetapi tetap saja saya nggak habis pikir, hanya gara-gara persoalan yang sepele seperti itukah, atau ada rencana lain yang lebih besar dibalik itu semua? Apakah karena cinta segitiga, atau karena rasa harga diri yang sudah tersinggung sedemikian hebatnya? Hanya pak AA yang bisa menjawabnya.


Harga diri itu adalah nilai keakuan yg dijunjung tinggi oleh setiap pribadi. Harga diri seseorang berkaitan dengan kebanggaan pada diri kita sendiri maupun pada keluarga besar seseorang. Ketika harga diri seseorang sudah disinggung atau diusik, maka yang terjadi bisa lain, yaitu amarah.


Setiap manusia yang ada didunia ini pasti memiliki harga diri dan tentunya masing-masing orang selalu menginginkan harga diri yang tinggi. Banyak orang yang beranggapan bahwa harga dirinya akan naik jika ia dapat mengekspresikan kemarahannya. Menurutnya, dengan berani marah kepada siapa saja maka orang-orang akan menilainya sebagai seseorang yang keras sehingga setiap orang akan takut dan takluk kepadanya.


Seseorang yang sudah diusik harga dirinya biasanya akan bertindak untuk membela dirinya sendiri, entah itu benar entah itu salah. Terkadang masalah yang sepelepun bisa-bisa jadi rumit gara-gara harga diri sudah terusik. Padahal bila kita pikir dan telaah lebih dalam lagi, mungkin juga kita yang salah tetapi ya.. karena harga diri itulah seolah terjadi pembenaran terhadap yang salah.


Seseorang yang mempunyai tingkat intelektual yang tinggi pun, ketika persoalan yang sebetulnya sepele, tetapi karena harga diri sudah terusik, maka dia akan berubah menjadi seorang yang tidak lagi menggunakan rationya. Langkah jangka pendek atau shortcut yang biasanya akan ditempuh. Banyak cara yang akan ditempuh oleh seseorang ketika harga diri terusik, yaitu marah, semangat balas dendam, sampai pada keinginan untuk menghabisi si penyinggung harga diri.


Wah,.saya bukan seorang psikolog yang akan membahas hal ini, tetapi kira-kira ini lah yang sering terjadi dimasyarakat. Sama hal nya jika kita mendapati seorang pencopet uang katakanlah cuma 10 ribu rupiah, tetapi karena teriakan orang yang dicopet itu kencang sehingga menarik perhatian masyarakat sekitarnya, dan salah satu berteriak “DIBAKAR AJA”, maka bisa-bisa kejadian kerumunan orang yang menangkap pencopet itu bak menerima perintah untuk membakarnya. Padahal dalam kerumunan itu mungkin juga banyak orang-orang yang punya intelektual tinggi, tetapi pada saat itu, tingkat intelektualnya sama dengan nol, yang ada adalah semangat balas dendam.


Memang sangat sulit mengendalikan emosi akibat harga diri tersinggung. Dibutuhkan pemahaman tinggi untuk mencerna segala informasi yang masuk. Banyak belajar dari pengalaman orang lain, banyak belajar dari kasus-kasus hukum yang bernuansa terhadap harga diri seseorang adalah sangat perlu dalam rangka pengendalian diri.


Ya,.itulah harga diri,….harga yang sedemikian mahal yang harus dibayar seseorang ketika terusik.


Harga diri yang sesungguhnya adalah merupakan harga diri atas kemuliaan karakter kita, yang meliputi keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan.


wassalam


dwi nindyatono